Wednesday, November 14, 2018

MAKALAH PPENGUKURAN & EVALUASI KINERJA

KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah yang berjudul Pentingnya Pengukuran dan Evaluasi Kinerja Pendidikan Dasar” ini berisi tentang kajian mengenai indikator kinerja, standar kinerja, konsep dasar pengukuran kinerja, metode pengukuran kinerja, evaluasi kinerja, dan strategi bagi keberhasilan pengukuran kinerja. Makalah ini diajukan guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen Strategik Pendidikan Ke-SD-an.
Kami sadar bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, hal itu dikarenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan bagi para pembaca umumnya serta semoga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengembangkan dan meningkatkan prestasi di masa yang akan datang.
Akhir kata, kami memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan.



BAB I
 PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Menurut Whittker (dalam Akdon, 2011:164), manajemen strategik (strategic management) merupakan suatu pendekatan manajemen yang terintegrasi dan strategik untuk mendukung keberhasilan organisasi secara terus menerus melalui peningkatan kemampuan kinerja semua anggota organisasi baik secara individu maupun dalam kelompok. Pendekatan terintegrasi meliputi integrasi vertikal, integrasi fungsional, integrasi sumberdaya manusia dan integrasi antara kebutuhan masing-masing unsur yang terlibat (individual needs). Oleh karena itu, pendekatan integrasi sangat peduli terhadap: (a) perencanaan; (b) komunikasi; (c) input, proses, outcomes; (d) pengukuran kinerja dan review; (e) kepentingan customer dan stakeholder; (f) pembangunan prosedural yang tidak memihak dan transparansi.
Sasaran utama manajemen strategik ada tiga, yaitu:
1.      Tumbuhnya perubahan di berbagai bidang secara terus menerus.
2.      Menekankan pada pencapaian hasil kegiatan (outcome) dan dampaknya.
3.      Meningkatnya kemampuan mengukur kinerja.
Dengan demikian, manajemen strategik dimaksudkan tidak sekedar untuk menghemat anggaran (efisiensi), namun yang terpenting adalah tercapainya keseimbangan antara keluaran (output) dan hasil (outcome) secara efektif. Dengan demikian, paradigma (pola pikir) “keberhasilan input” sudah harus ditinggalkan.
Penilaian keberhasilan pencapaian output dan outcome dalam tujuan dan sasaran adalah fokus dari kegiatan pengukuran kinerja. Whittaker (dalam Akdon, 2011:165) mengemukakan empat elemen kunci dari pengembangan sistem manajemen kinerja, yaitu:
1.      Perencanaan dan penetapan tujuan.
2.      Pengembangan ukuran yang relevan.
3.      Pelaporan formal atas hasil.
4.      Penggunaan informasi.
Kinerja adalah hasil kerja suatu organisasi dalam rangka mewujudkan tujuan strategik, kepuasan pelanggan, dan kontribusinya terhadap lingkungan strategik. Bernadin, Kane, dan Johnson (dalam Akdon, 2011:166), mendefinisi kinerja sebagai outcome hasil kerja keras organisasi dalam mewujudkan tujuan strategik yang ditetapkan organisasi, kepuasan pelanggan serta kontribusinya terhadap perkembangan ekonomi masyarakat. Secara sepintas, kinerja dapat diartikan sebagai perilaku berkarya, berpenampilan atau hasil harya. Oleh karena itu, kinerja merupakan bentuk bangunan yang multi dimensional, sehingga cara mengukurnya sangat bervariasi tergantung kepada banyak faktor (Bates dan Holton, dalam Akdon, 2011:166).
Selama ini, keberhasilan suatu instansi pemerintah lebih ditekankan kepada kemampuan instansi dalam menyerap sumber daya (terutama anggaran) sebanyak-banyaknya, walaupun hasilnya sangat mengecewakan. Seharusnya keberhasilan suatu instansi pemerintah lebih dilihat dari kemampuan instansi tersebut, berdasarkan sumber daya yang di kelolanya, untuk mencapai hasil sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dalam perencanaan strategik.

B.     Rumusan Makalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah dalam makalah ini diuraikan sebagai berikut.
1.        Bagaimana indikator kinerja dalam manajemen strategik?
2.        Bagaimana standar kinerja dalam manajemen strategik?
3.        Bagaimana konsep dasar pengukuran kinerja dalam manajemen strategik?
4.        Bagaimana metode pengukuran kinerja dalam manajemen strategik?
5.        Bagaimana evaluasi kinerja dalam manajemen strategik?
6.        Bagaimana strategi bagi keberhasilan pengukuran kinerja dalam manajemen strategik?

C.    Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini diuraikan sebagai berikut.
1.        Untuk memaparkan indikator kinerja dalam manajemen strategik.
2.        Untuk menguraikan standar kinerja dalam manajemen strategik.
3.        Untuk menjelaskan konsep dasar pengukuran kinerja dalam manajemen strategik.
4.        Untuk menjelaskan metode pengukuran kinerja dalam manajemen strategik.
5.        Untuk memaparkan evaluasi kinerja dalam manajemen strategik.
6.        Untuk menguraikan strategi bagi keberhasilan pengukuran kinerja dalam manajemen strategik.

D.    Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat yang dapat diperoleh dengan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.        Mengetahui pentingnya pengukuran dan evaluasi kinerja dalam manajemen strategik pendidikan dasar.
2.        Sebagai bahan bacaan yang berkaitan dengan pengukuran dan evaluasi kinerja.

E.     Sistematika Penulisan
Sistematika pada makalah yang kami susun ini terdiri dari beberapa bagian yang akan membahas pengukuran dan evaluasi kinerja dalam manajemen strategik pendidikan dasar. Pada kajian BAB I PENDAHULUAN, kami membahas mengenai pandangan tentang pentingnya pengukuran dan evaluasi kinerja dalam manajemen strategik. Selain itu, pada bab ini berisi berbagai permasalahan sebagai acuan dasar yang akan kami bahas pada bab selanjutnya sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Pada kajian BAB II PEMBAHASAN, kami memaparkan beberapa  pendapat dan pernyataan mengenai perumusan masalah dengan menggunakan metode studi literatur yang berkaitan dengan materi. Pada kajian BAB III SIMPULAN, kami memberikan penekanan kembali dan membuat suatu keterkaitan antara perumusan masalah dan pendapat yang kami ungkapkan pada bab sebelumnya. DAFTAR PUSTAKA berisi mengenai sumber rujukan dari berbagai sumber buku yang kami gunakan sebagai referensi dalam pembuatan makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Indikator Kinerja
Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif maupun kualitatif untuk dapat menggambarkan tingkat pencapaian sasaran dan tujuan organisasi, baik pada tahap perencanaan (ex-ante), tahap pelaksanaan (on-going), maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post). Selain itu, indikator kinerja juga digunakan untuk meyakinkan bahwa kinerja hari demi hari menunjukkan kemajuan dalam rangka menuju tercapainya sasaran maupun tujuan organisasi yang bersangkutan.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi suatu indikator kinerja adalah
1.      Spesifik dan jelas untuk menghindari kesalahan interpretasi.
2.      Dapat diukur secara objektif baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
3.      Menangani aspek-aspek yang relevan.
4.      Penting dan berguna untuk menunjukkan keberhasilan input, output, hasil/outcome, manfaat, dampak serta proses.
5.      Fleksibel dan sensitif terhadap perubahan pelaksanaan.
6.      Efektif, dalam arti datanya mudah diperoleh, diolah dan dianalisis dengan biaya yang tersedia.
Terdapat 5 (lima) macam indikator kinerja yang umumnya digunakan yaitu
1.      Indikator kinerja input (masukan) adalah indikator segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat menghasilkan keluaran yang ditentukan. Misal dana, SDM, informasi, kebijakan, dan lain-lain.
2.      Indikator kinerja output (keluaran) adalah sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berupa fisik maupun non fisik.
3.      Indikator kinerja outcome (hasil) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran (output) kegiatan pada jangka menengah (efek langsung).
4.      Indikator kinerja benefit (manfaat) adalah sesuatu yang terkait dengan tujuan akhir dari pelaksanaan kegiatan.
5.      Indikator kinerja impact (dampak) adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun negatif pada setiap tingkatan indikator berdasarkan asumsi yang telah ditetapkan.
Tabel 1. Contoh Indikator Kinerja
Kegiatan
Seminar Nasional Pendidikan Dasar
10-12 Desember 2016 di Bandung
Indikator Kinerja
1.      Input
Jumlah dana yang dibutuhkan
2.      Output
Jumlah peserta yang tersedia
3.      Outcome
Kualitas seminar lebih baik
4.      Benefit
Tingkat penerapan dalam dunia pendidikan dasar
5.      Impact
Tingkat kepuasan peserta

B.     Standar Kinerja
1.      Standar Kinerja
Standar kinerja adalah ukuran tingkat kinerja yang diharapkan tercapai dan dinyatakan dalam suatu pernyataan kuantitatif. Penetapan standar kinerja dapat bersumber dari peraturan perundang-undangan yang berlaku, keputusan manajemen, pendapat para ahli, atau berdasarkan pengalaman dari pekerjaan yang sama dari tahun-tahun sebelumnya. Cara yang sering digunakan adalah dengan menggunakan metode DELPHI, yaitu menanyakan kepada pihak-pihak yang memiliki pengalaman dalam bidang yang dimaksud dan dikuasai.
Persyaratan standar kinerja yang baik yaitu
1.      Dapat dicapai (attainable) dalam kondisi yang ada;
2.      Ekonomis;
3.      Mudah diterapkan (applicable);
4.      Mudah dimengerti (understandable);
5.      Terukur (measurable) dan presisi;
6.      Stabil dalam kurun waktu yang cukup lama;
7.      Dapat diadaptasi dalam berbagai keadaan;
8.      Legitimasi, didukung ketentuan/peraturan yang berlaku;
9.      Fokus kepada pelanggan;
10.  Dapat diterima sebagai ukuran pembanding oleh pihak-pihak yang terkait.

2.      Pengumpulan Data Kinerja
Data ialah kenyataan, fakta yang dicatat tertulis untuk dijadikan bukti apabila diperlukan. Data dikumpulkan dari waktu ke waktu, untuk kemudian dibandingkan supaya dapat dilihat adanya perubahan yang bersifat kemajuan atau kemunduran. Pengumpulan data memerlukan kecermatan, ketelitian, dan berkelanjutan. Pelaksanaan pengumpulan data harus dilakukan secara cermat dan terstruktur, serta harus diketahui siapa yang bertanggung jawab. Pengumpulan data dilaksanakan melalui pengamatan, survei, wawancara, dan sebagainya. Hasil pencatatan data kinerja dicatat secara tertulis dari waktu ke waktu dan diproses untuk mengetahui adanya perubahan/perkembangan kinerja. Pengumpulan data kinerja dilakukan guna memperoleh informasi dari indikator kinerja yang meliputi : (a) efektifitas, (b) efisiensi, (c) ketepatan waktu, (d) akuntabilitas, dan (e) integritas pelaksanaan program yang dirumuskan dalam rencana strategik. Semua data kinerja dihimpun dalam suatu sistem database.

C.    Konsep Dasar Pengukuran Kinerja
Pengukuran kinerja adalah alat manajemen untuk menilai keberhasilan maupun kegagalan pelaksanaan strategi untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Pengukuran kinerja perlu diartikulasikan dengan visi/misi organisasi, tujuan dan sasaran organisasi. Pengukuran kinerja merupakan keharusan karena
1.      Apa yang bisa diukur itulah yang pasti dapat dikerjakan;
2.      Apabila kinerja tidak diukur, maka tidak mudah membedakan antara keberhasilan dan kegagalan;
3.      Jika suatu keberhasilan tidak diidentifikasi, maka kita tidak dapat menghargainya;
4.      Apabila keberhasilan tidak dihargai, kemungkinan besar akan menghargai kegagalan;
5.      Jika tidak mengenali keberhasilan, berarti juga tidak akan bisa belajar dari kegagalan;
6.      Apabila tidak mampu mengenali kegagalan, maka tidak akan bisa memperbaikinya, dan yang terpenting;
7.      Jika tidak sanggup membuktikan hasil kerja, maka publik tidak dapat memberikan dukungannya.
Pengukuran kinerja meliputi penetapan indikator kinerja dan penentuan hasil capaian indikator kinerja. Kinerja harus selalu diukur agar dapat dilakukan tindakan-tindakan penyempurnaan. Tindakan-tindakan penyempurnaan yang dimaksud antara lain
1.      Memperbaiki kinerja yang masih lemah;
2.      Meningkatkan hubungan yang lebih baik antara staf dan manajemen (empowerment); dan
3.      Meningkatkan hubungan yang lebih erat dengan customer.
Beberapa cara pengukuran kinerja, antara lain adalah
1.      Membandingkan kinerja nyata dengan kinerja yang direncanakan.
2.      Membandingkan kinerja nyata dengan hasil (sasaran) yang diharapkan.
3.      Membandingkan kinerja tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya.
4.      Membandingkan kinerja dengan kinerja instansi lain atau dengan swasta yang unggul di bidang tugas yang sama dengan kegiatan yang sedang di ukur.
5.      Membandingkan kinerja nyata dengan standar.


D.    Metode Pengukuran Kinerja
Dalam rangka melakukan pengukuran kinerja instansi pemerintah, perlu dibuat dulu rencana kerja tahunan yang diambil dari rencana strategik yang berjangka lima tahunan yang diambil dari rencana strategik yang berjangka lima tahunan. Perencanaan lima tahunan ini dapat dibuat dengan membuat Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, yang cara penyampaiannya membuat kebijakan dan program satu tahun yang akan dikerjakan.
Dari rencana kerja tahunan ini dibuat rencana pengukuran kinerja dengan menguraikan per-program ke dalam kegiatan tahunan, yang selanjutnya dapat dibuat indikator-indikatornya. Indikator kinerja kegiatan terdiri dari :
1.      Indikator masukan,
2.      Indikator proses,
3.      Indikator keluaran,
4.      Indikator hasil,
5.      Indikator manfaat, dan
6.      Indikator dampak.
Bahwa pada tahap pengukuran kinerja ini kita tidak merubah indikator kinerja kegiatan dan satuan indikator kinerja yang telah disepakati dan ditetapkan di dalam dokumen rencana kerja tahunan. Untuk mengukur kualitas pencapaian sasaran.
Langkah-langkah pengukuran kinerja menururt  Akdon (2016) sebagai berikut :
1.      Siapkan seluruh dokumen yang diperlukan yang meliputi :
a.       Dokumen rencana strategik
b.      Dokumen rencana kinerja tahunan
c.       Dan dokumen indikator kinerja dan terget indikator kinerja kegiatan, serta
d.      Data dan informasitentang realisasi dari masing-masing indikator kinerja kegiatan.
E.     Evaluasi Kinerja
Kegiatan lebih lanjut dari pengukuran kinerja adalah evaluasi kinerja. Tujuan pokoknya agar dapat mengetahui secara pasti pencapaian hasil, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan program/kegiatan, selanjutnya dipelajari guna perbaikan pelaksanaan program/kegiatan di masa yang akan datang. Fokus evaluasi kinerja ini meliputi :
1.      Evaluasi masukan (input evaliation)
2.      Evaluasi proses (process evaluation)
3.      Evaluasi keluaran (output evaluation)
4.      Evaluasi hasil (outcome evaluation)
5.      Evaluasi dampak (impact evaluation)
Fungsi evaluasi adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kegagalan suatu organisasi dan memberikan masukan untuk mengatasi permasalahan yang ada.
F.     Strategi Bagi Keberhasilan Pengukuran Kinerja

BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Dalam khasanah teori pendidikan, terdapat berbagai aliran filsafat pendidikan, antara lain Idealisme, Realisme, Pragmatisme, Eksistensialisme, dan lain-lain. Namun demikian, kita memiliki filsafat pendidikan nasional tersendiri, yaitu Pancasila. Berbagai aliran filsafat perlu kita pelajari, tetapi pendidikan yang kita selenggarakan hendaknya tetap berlandaskan Pancasila.
Filsafat pendidikan bersifat subjektif, seseorang yang mempelajari filsafat pendidikan tidak boleh menerima begitu saja pikiran-pikiran/ide-ide/teori-teori yang dikemukakan para filsuf, tidak boleh menerima begitu saja suatu ajaran atas dasar otoritas atau dogma. Sebaliknya, orang yang bersangkutan harus mencermati konsep-konsep dasar yang dijadikan titik tolaknya (asumsi-asumsinya), mencermati kegandaan-kegandaan makna dalam setiap pernyataan yang dapat dipersoalkan, menolak ikut arus pendapat umum, dan mencari penjelasan serta alasan-alasan yang belum diketahui. Jadi, inti mempelajari filsafat pendidikan adalah membangun pikiran sendiri, bukan sekedar mengisi kepala dengan fakta-fakta atau pikiran-pikiran orang lain. Filsafat pendidikan mengajak kita untuk menguji dan mempersoalkan kembali pikiran/ide/teori bahkan dogma yang sudah kita anggap benar, mengajak kita untuk mengambil posisi dalam perbedaan-perbedaan pendapat yang ada, dan mengajak kita untuk menetapkan pendirian kita sendiri. Dengan demikian, filsafat berfungsi mengembangkan sikap kritis dan kemandirian intelektual di tengah-tengah teori dan praktek pendidikan yang ada.

B.     Saran
Sebagai pendidik, kita perlu mengetahui paham filsafat pendidikan. Pengetahuan tentang hal tersebut akan memberikan wawasan dan motivasi bagi kita untuk mau mempelajarinya secara sungguh-sungguh, untuk mengambil hikmah dari apa yang dipelajari, dan untuk mau mengamalkannya dalam praktek hidup, khususnya dalam rangka melaksanakan praktek pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA



Akdon. 2011. Strategic Management For Educational Management (Manajemen Strategik untuk Manajemen Pendidikan). Bandung: Alfabeta.

No comments:

Post a Comment